IDEAonline -Desainer asal Israel Erez Nevi Pana mencoba mendorong veganisme ke industri desain furnitur.
Ia bereksperimen dengan berbagai tanaman dan mineral untuk membuat furnitur yang bebas-hewani.
Nevi Pana membuat sebuah pameran desain vegan yang ditujukan untuk menyelesaikan penelitian PhD-nya untuk melihat apakah mungkin membuat desain tanpa menggunakan bahan apapun yang berasal dari hewan.
"Jika kamu bertanya kepada vegan, dalam konteks makanan, kelimpahan ada di sana, kamu hanya perlu menemukannya. Namun, ketika kita berpikir tentang artefak vegan, tentang produk, pasti ada batasannya," kata perancang Israel, yang menjadi vegan sejak lima tahun lalu.
Baca Juga : Arsitek Desain Rumah Pohon Modern dengan Berbentuk Prisma di Pedalaman Hutan Italia
Sebagai bagian dari pekan desain di Milan, Nevi Pana menyajikan eksperimennya dengan sumber daya alam dan membuat desain karyanya yang digambarkan sebagai "guilty-free" di Spazio Sanremo, Via Zecca Vecchia.
Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran penipuan bahan dalam produk serta menyajikan potensi bahan vegan di setiap aspek desain, dari proses kerja hingga produk akhir.
Baca Juga : Kolaborasi dengan Desainer dan Asitek, Ciptakan Sketsa Kota dalam 15 Menit
Baca Juga : Muak dengan Sampah Plastik, Perusahaan Arsitektur Ini Ciptakan Furnitur dari Plastik Daur Ulang
Setiap objek bertujuan untuk memberikan pendekatan berbeda terhadap desain vegan dan "seni pengurangan."Perancang memulai penjelajahannya menjadi desain vegan dengan Laut Mati - menggunakan air natrium-berat untuk membuat bangku dengan material garam.
Dengan mengumpulkan sisa-sisa kayu yang dibuang dari bengkel tukang kayu, Nevi Pana membangun kursi yang kemudian ia coba perbaiki bersama menggunakan lem vegan buatannya sendiri, yang terdiri dari serat tanaman dan resin kayu.
Namun lem ini tidak berhasil, kata sang desainer kepada Dezeen, karena lem itu tidak cukup kuat untuk merekatkan semuanya.
Baca Juga : Inspirasi Desain Rumah 40 m2, Nyaman dan Apik Pakai Furnitur Jadi
Sementara untuk furnitur kedua, ia mengambil bahan-bahan alami yang ia temukan di sisi jalan ketika sedang berpergian di gurun Israel.
Mulai dari daun, batu, dan sisa tekstil, lalu menggabungkannya untuk membentuk sebuah kursi.
Ia kemudian mencelupkan ke dalam air dan "laut mati" selama beberapa bulan hingga muncullah lapisan "kulit" dari kristal garam.
Nevi Pana juga bereksperimen dengan tanah sebagai material furniturnya.
Baca Juga : Kolaborasi dengan Desainer dan Asitek, Ciptakan Sketsa Kota dalam 15 Menit
Baca Juga : Begini Cara Milenial yang Bergaji Rp 4 Juta Bisa Punya Rumah Sendiri
Ia menggabungkan tanah, jamur dan bahan alami lainnya yang mampu membangkitkan reaksi kimia yang menghasilkan sebuah adonan.
Adonan inilah yang menjadi bahan untuk membuat furnitur yang diinginkan.
Setelah menjadi seorang vegan lima tahun lalu, Nevi Pana mulai mengubah kebiasaan makan dan pola makannya.
Dia kemudian mulai mempertanyakan apa yang dia kenakan, dan bahan yang dia gunakan dalam karya desainnya.
Baca Juga : Semakin Terkenal, 5 Hal Ini Harus Kamu Ketahui tentang Marie Kondo!
"Ketika kamu memilih untuk menjadi vegan, kamu mempertanyakan rasa superioritas daripada hewan dan penggunaannya untuk produksi produk," kata perancang."Memilih kesadaran mengarah pada tindakan mampu memperluas diskusi menjadi lebih dari sekadar diet - pertanyaan yang lebih luas muncul tentang penggunaan bahan vegan secara umum," tambahnya.
Veganisme sedang meningkat di seluruh dunia dan sekarang menyebar ke industri desain setelah peluncuran Penghargaan Peralatan Rumah Tangga Vegan tahun lalu. (*)
Baca Juga : Bingung Menata dan Memilih Furnitur di Rumah Baru? Ikuti 7 Panduannya